Uniknya Manusia

Semua orang butuh semangat. That's a fact.

Dan lagi-lagi kalimat pembuka gw ga nyambung sama tema postingan. Cih, hina.

Abaikan.

Manusia itu punya satu sifat dasar yang aneh menurut gw. Sebagaimanapun masalah yang kita hadapi, kita akan selalu berpikir masalah kita lebih besar dari orang lain. Padahal mungkin aja masalah kita cuma sekedar lupa bawa kartu absen. Tapi kalau ada temen yang bilang, 'gila gw dateng telat semenit doank disuruh bayar!' Kita pasti langsung nanggepin, 'lo mending! Gw donk lupa bawa kartu absen!' Padahal ga ada yang lebih mending dan ga ada yang lebih buruk juga.

Gw pernah ngerasa muak sama seorang kenalan yang tiap hari kerjaannya selalu mengeluh. Mulai dari masalah kerjaan sampe lupa keramas bisa membuat cerita-cerita hidupnya lebih tragis dari sinetron putri yang tertukar. Kata orang that's what friends are for. Temen yang baik memang harus siap mendengarkan keluh kesah temennya. In good times and bad times. Tapi kalo setiap hari yang lo denger cuma bad times nya dia dan gimana hidupnya adalah hidup yang paling dilematis se-antero Asia Tenggara masih bisa ga lo jadi temen yang baik? Gw? Berusaha sebisa mungkin. *plakkkk* Walaupun pada akhirnya gw selalu ga sabar dan setiap keluh kesahnya yang biasanya akan dia ceritakan kira-kira 3x sehari selalu akan gw akhiri dengan kata, 'terserah lo deh sob'.

Orang-orang kayak gitu kadang bikin males buat diladenin. 

Ada lagi tipe orang yang ga mau kalah kalo cerita. Misalkan gw cerita gini, 'kemaren gw jatoh di hutan pas kemping'. Orang yang ga mau kalah itu akan nanggepin dengan heboh, 'GW JUGA PERNAH JATOH PAS KEMPING!' Ehm, terus kenapa? Dasar 'unik'. ~.~

Orang yang tipe gitu juga bikin males. Karena apapun yang lo ceritain dia paaaasssti pernah ngalamin juga. Dan cerita-ceritanya penuh kehebohan sampe gw ga bisa mencerna orang macam gitu bener-bener punya pengalaman atau cuma pinter ngayal?

Nah ada juga orang kayak gw. Lucu, imut, dan menggemaskan. *plakkkk* Tipe yang ga tahan kalo ga ngeluarin uneg-uneg. THANK GODNESS gw bisa meluapkan segalanya di blog ini. Cos some things are better kept unspoken. Walaupun some things are better kept unwritten also. :p

Udah ah kerja kerja dulu. Yuk mari babay.

Smooch,
eVe~



Dream Job

I'm just finished watching Devil wears Prada. Geez!! It's so last years... In a very positive way.

Freako. Itu film dari jaman gue kelas dua SMA. I repeat, kelas dua SMA. It means udah almost five years ago. Dan gue yang bajigur film ini baru nonton fiilm itu sekarang. Va! Kemane aja lo! Readers, you really need to watch this movie. Seriously.

FYI, currently it's 11.53 pm. Dan gw harus bangun jam 5 subuh buat bersiap pergi ke kantor. Speaking of which, i deadly wanna write this blog as soon as possible.

So, Devil Wears Prada. I'm not in the right time to discuss about this movie. This is not a movie blog anyway. I'll tell a lil. Just a lil. I swear.

Intinya, have you ever think about a dream job. A job that you really wish you had? A job that you can desperately work for it but you just so happy to do it. A job that u can proudly tell your friends and families bout your jobdesc. May be some of you may have. And perhaps some don't. I wasn't.

Dari dulu gw bukan orang yang mudah terobsesi dengan sesuatu. Gw ga punya rencana hidup yang luar biasa seperti yang mungkin sebagian dari cewek-cewek berumur dua puluh miliki. Hidup gw simpel. Gw ga suka mikirin akan jadi apa gw besok. Gw ga pernah tau apa yang jadi obsesi gw. Kebanyakan gw selalu suka dengan segala hal. Makanya saat memilih jurusan di universitas, gw sempet bingung. Gw semepet mau ambil Psikologi, sedikit obsesi dari jaman SMP. Sempet juga mau ambil perhotelan, karena gw lebih suka praktek dari teori. Dan berakhir di Teknik Informatika. Computer Science was not the best choice I ever made. Seriously. I didn't even choose it. Tapi kayaknya ga layak untuk bilang gw nyesel ambil TI. I learned a lot, I met fabulous people, I can do things others may awkwardly know about their computer. Well, gw bukan ahli TI. Tapi setidaknya gw tau.

Right after gw selesai sidang dan dinyatakan lulus, gw terima kesempatan interview di salah satu perusahaan nasional yang cukup besar. Perlu dikatakan gw sama sekali ga punya rencana untuk kerja disana. i didn't even know the job. Nor the company profile. Gw dapet dari temen gw. Bermodalkan asas coba-coba, jadilah gw berkerja disana. Voila. And trust me, it is hell covered with heaven screensaver.

I don't have the rights to judge my job. I know. But this job is 125% not me. Bisa bayangin eva (yang imut dan lucu) yang ga bisa diem, yang banci ekskul waktu jaman sekolah, yang eksis baik di kelas, jurusan, maupun di corporate communication waktu kuliah, yang ga afdol kalo ga jadi panitia dari event bahkan selevel event lokal Gereja setempat, sekarang berakhir dibelakang meja, memandangi komputer dengan layar excel, siap terima e-mail dan telepon permintaan data yang gw bahkan ga tau bagaimana cara dapetnya. Hell-oow? I desperately wanna blow my head off.

Tujuh bulan gw bertahan dengan segala yang ada di so-called-hell. And I don't want to make it forever. Thanks to Devil Wears Prada, that movie knocked me down. To the earth.

This is not what I think myself will be.

Film itu mengisahkan tentang bagaimana si tokoh utama bertahan di kantornya yang kayak neraka, kehilangan relasi dengan sesamanya (teringat CB 2), dan akhirnya menyadari kalau ini bukan dream job nya. One question, kenapa gw baru nonton film itu SEKARANG? Kenapa ga LIMA TAHUN YANG LALU saat gw masih bisa memperjuangkan jurusan gw, dan yeah, tentunya pekerjaan gw. Kenapa? Blaaahh~ Jangan tanya kenapa. You know God hates the question 'why'. *roolingeyes*

FYI, sekarang jam setengah satu pagi. Tapi gw ga akan bisa tidur kalau gw ga lanjut nulis ini.

That movie membawa pencerahan buat gw. I do have dream Job. Everyone does. Semuanya tergantung bagaimana lo berjuang untuk meraih dream job lo. Apa lo akan nyerh sama angin yang membawa lo kemanapun dia mau dan beresiko masuk angin. Atau lo mau kejar apa yang lo cita-citain. Me? Me so sick with this job. And I will definitely go for my dream job. Sekali lagi, kalau Tuhan mengijinkan.

Amen?

Smooch,
eVe~

Disaster

Oke. I'm in a very big problemo.

How can I cut my hair like this?!!! Yang lebih menyakitkan dari salah potong rambut oleh pegawai salon adalah salah potong rambut oleh DIRI SENDIRI!!!

Desperate. I'm doomed. In a very deep shit.

Kisah tragis ini dimulai dari gw yang bego pergi ke salon untuk men-smoothing rambut gw yg uda semi kribo. Selesai smoothing bukan senyuman yang gw tampakkan waktu pertama x liat kaca. Gw meringis. Rambut kribo gw jadi super lurus, menandakan kalau obat smoothingannya sangat topcer. Senang? NGGAK! Rambut gw jadi kayak ilang. Lepek. Abis. Muka gw tiba-tiba tampak seperti babi liar sedang puber efek dari lepeknya rambut gw. Disaster? Not yet.

Merasa belom puas dengan rambut-lepek-muka-babi gw, gw menemukan bahwa poni gw yang tadinya kribo sekarang lurus dan menusuk-nusuk mata gw. Jadi sehari setelah smoothing gw berdiri didepan kaca dengan tangan memegang gunting dan voila... Sukses menggunting poni gw... DENGAN NAJISNYA!!!! Sekarang poni gw ga rata dan super pendek. Apa yang lebih jelek dari rambut-lepek-muka-babi? Ini lebih jelek, rambut-lepek-muka-babi-poni-pantat. TOTAL DISASTER!!!!

Gw ga tau lagi apa yang harus gw lakukan dengan rambut gw. Gw harus sabar menunggu dia panjang lagi. Terutama poni. Gw cuma bisa pasrah menerima cemoohan orang-prang sekantor. Yang lebih parah lagi, gw uda ga bisa menampakkan wajah didepan 'you-know-who'. Gw. Dalam. Masalah. Besar.

Sekarang siapapun yang ngeliat gw akan menampilkan ekspresi jijik ngeliat kolaborasi poni rambut dan muka gw. Ada temen2 yg coba menghibur gw. Tapi maaf teman, cobaan ini terlalu berat buat gw. 12 tahun yang lalu gw pernah salah potong rambut juga. DUA BELAS TAAAHUUNN YANG LALUUU!!! I have no idea that 12 tahun setelahnya gw akan mengalami hal yang sama. Kali ini, lebih dasyat efeknya.

Apa yang harus gw lakukan? Apa gw harus resign dari kantor dan mengurung diri selama 2 bulan sampai rambut ini tumbuh? Apa gw harus pake wig? Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai? Gimana cara gw menghadapi orang-orang sekitar? Gimana cara gw tampil di depan 'you-know-who' dengan keadaan seperti ini. Gw bisa bayangkan dia tertegun menatap gw (which is yg selama ini gw harapkan) mengangkat tangan menunjuk wajah gw (yg akan membuat gw terpana) dan tertawa terbahak-bahak (yg akan membuat gw bunuh diri).

God, waktu emang ga bisa diputer balik. Waktu juga ga bisa dipercepat. Jadi selama gw harus menjalani cobaan dari ketololan gw ini, God, give me strength, please?

Smooch,
eVe berambut cupu~

Reasons

Yo readers, tema kali ini adalah... Sepanjang jalan kenangan. (Terus kenapa judulnya reasons?)

Warning: ini postingan sampah!

Here I am, duduk didepan komputer kantor tanpa koneksi internet. Terpaksa donk ngetik blog di bebe. And it sucks. I'm not a bebe lover, fyi. I was bebe hater actually. Was. Banyak hal yang membuat gw ga suka sama bebe. Or you may say, I'm a bebe users hater. Bisa bayangin gimana orang lagi ngautis? Hampir ketabrak mobil pun mereka ga sadar. Gw paling males ngeliat orang ngautis pas lagi jalan di mall. Hell-oww people! Kayak ga ada waktu dan tempat lain aja. Once gw pernah kesel banget sama temen gw yg doyan ngautis dikelas. Sampai akhirnya gw pasang status YM 'I'm a bb hater' dan dia pun langsung komen. "Lo sebel sama bb apa sebel sama gw, Va?" =))

Both.

Well, now I'm using bebe. Bukan berarti gw orang yang suka ngejilat ludah sendiri. Gw ga mau. Jorok dan ga higienis. I have three reasons why I decided to buy a thing called bebe:

First, karena gw males bawa alkitab. Salah sih. Tapi boleh donk memanfaatkan benda elektronik jadi sumber berkat? Dari pada cuma buat main. Ya kan? Ya donk! Jadi gw bisa memanfaatkan aplikasi alkitab kalo gw punya bebe.

Second, karena gw doyan ngeblog. Dan semenjak kerja di perusahaan XYZ yang komputernya ga ada koneksi internet kecuali di bagian IT yang oh hell curang banget mereka bisa lewatin proxy *tarik napas panjang* akhirnya gw pun jarang update blog. Secara sampe rumah gw cuape bhuanget seringnya ga punya waktu lagi buat buka lapie my baby sweety ihiy ihiy. So, dengan adanya si bebe gw jadi bisa update blog kan. WALAU PADA KENYATAANNYA YAH NGETIK DI BROWSER PAKE BEBE ITU BIKIN DOSA GW SAMA KAYAK DOSANYA PARA PENYAMUN DI SARANG PERAWAN KARENA SUSAHNYA SETENGAH IDUP!!

Third, well.. Uhm... Ya... Karena... Sesuatu deh. Alhamdulilah banget yah. *ditelen Syahrini*

Dan gw baru aja mendapat teguran dari seseorang, 'BB an terus nih yee' What-e-verrrrrr..... *kibas poni.

Smooch,
eVe~

Aku terjatuh... Akuu terjatuh lagi.. *plakkkkk*

Su... Su... suakiiiiiittttt.... *menangis tersedu-sedu*

Bingung? Mari kita flash back sejenak pada hari Sabtu, 20 Agustus 2011.

Sabtu, 20 Agustus 2011, kira-kira pukul 6 sore. Disaat bedug mulai berkumandang untuk mengabarkan kepada perut-perut kelaparan bahwa waktu berbuka puasa sudah tiba, gw baru aja pulang dari gereja. Dari sejak minggu lalu gw ikut SHDRK (Seminar Hidup Dalam Roh Kudus) di gereja. Dan yang kemarin itu hari terakhir. Asik? Pastinya. Gw selalu bawa motor ke gereja. Abis nya kalo naik ojek agak ribet karena selesai seminarnya itu cukup malem. Daripada saya diculik tukang ojek kayak anak BINUS yang diculik abis sidang kan mendingan gw bawa motor. Ya ga? Ya donk.

FYI readers, gw ga pernah yang namanya ngebut-ngebutan. Gw cinta damai. Dan gw fans nya Klose. Maksudnya, gw ga suka ngebut-ngebutan. Yang gw suka tuh lari-larian indah di lapangan hijau sambil ditemani Klose. *diinjak Joachim Loew*

Back to topic. Sejak pertama kali bisa bawa motor GUWEH ga pernah ngebut, ga pernah melanggar rambu-rambu lalulintas, ga pernah ngupil sambil bawa motor, ga pernah menghujat pak polisi, dan ga pernah joget G6 sambil bawa motor. Jadi ga pernah kepikiran kalo hal ini akan terjadi pada gw.

Disuatu sore yang indah, sedikit berangin, cicak cicak di dinding pun sudah tidak diam-diam lagi merayap. Gw yang imut, lucu, dan kece sedang mengendarai motor dari Gereja. Lancar, walau jalanan jem segitu selalu dipenuhi sama truk, bus, dan motor-motor laknat. Kira-kira di depan Samsat (Dispenda), waktu gw mau ganti gigi karena udah mau belok ke arah rumah, ada sesuatu terjadi. Tiba-tiba di pelipis kanan gw kurasakan sesuatu menempel dengan dingin-dingin empuk. "Sesuatu" itu pun mulai berjalan menuju mata gw. PANIK DONK YA?!!! Gw reflek tutup mata sambil gedek-gedek biar si 'sesuatu' itu pergi.Tapi dia ga mau pergi. Alhasil gw makin panik.Gw niat minggir dijalan. Tapi karena tu binatang sudah menginjak bola mata gw, gw pun jadi super duper hyper panik dan JRENG JRENG gw pun jatuh. Motor gw oleng dan gw sukses ngusruk ke kiri jalan. Gw agak terpelanting ke sisi jalan, untung ga mausk got super gede yang ada disitu. Motor gw mental hampir ke tengah jalan. Setelah sepersekian detik adegan jatuh itu, gw menemukan badan gw uda di aspal dengan posisi miring kiri, kaki kiri gw masih tertimpa motor, kaki kanan gw sudah tak bersendal, sendalnya ga tau mental kemana.

Dua motor dibelakang gw langsung brenti dan nolongin gw. Motor gw diangkat. Gw mencoba bangun dan hal pertama yang gw lakukan adalah menyelamatkan mata gw. Masih panik sama hewan laknat brengski yang masuk mata gw, gw ga merhatiin ada apa sama badan gw. Dua mas-mas baik tadi langsung ngecek keadaan gw.

Mas 1: "Mbak ga kenapa-kenapa mbak?"
Gw: *kucek-kucek mata* Nggak apa-apa... Aduh... (Aduh karena nata gw sakit)
Mas 2: Coba tangannya mbak.
Gw: *muter-muter tangan* Nggak kenapa-kenapa mas.
Mas 1: Mbak kenapa kok bisa jatoh?
Gw: (mata gw kelilipan hewan, Mas) Ituuu... ga tauu.. motornya oleng. *nyengir miris*

Dan para mas-mas itu pun memberikan petuah singkat tentang bagaimana mengatasi motor oleng. Seharusnya gw bilang aja mata gw kelilipan hewan ya. Biar dikasih petuah penting bagaimana cara mengatasinya.

Memang mpret banget tuh hewan. Sampe rumah gw tertatih-tatih kayak kerispatih. Mamake gw heboh, Bapake gw ga heboh. Yang ada dia nanyain motornya ga kenapa-kenapa kan? Dasar bapake. ~.~" Well, sekarang gw pun memar-memar disekujur tubuh. Sakit. Banget. Yah. Apalagi kemaren mamake ngurut gw, gw nangis kayak abis dijamah Roh Kudus. *tsahhhh* Sakit choyyy.

Tapi gw bersyukur sih masih memar-memar. Seriously. It could be worse. First, itu jam buka puasa dan jalanan daan mogot ga pernah sepi. Selalu rame sama truk dan bus dan motor yang adu cepet mau buka puasa dirumah. Tapi saat gw jatuh entah mengapa jalanan sepi dan sesaat setelah gw dan motor gw dipinggirin barulah bus dan truk besar melaju. Puji Tuhan.

Second, gw biasanya paling males pake jaket. Tapi kemarin gw pake jaket dan celana panjang. Bahkan jaketnya gw kancing semua jadi ga ketiup angin. Dan guess what, karena jaket dan celana panjang itu gw jadi ga luka-luka serius. Gw sempet keseret ke pinggir. Kalo aja gw ga pake jaket dan gw pake celana pendek entah apa yang akan terjadi dengan kulit gw. Dan gw pasti panik ngeliat darahnya. Puji Tuhan. No blood.

Third, kalo lo liat motor gw lo akan menemukan injekan kaki depannya bengkok 90 derajat. Menandakan gw jatuh cukup keras. Tapi apa yang terjadi sama gw? Engkel gw bengkak dan memar tapi gw masih bisa jalan. Tangan gw sedikit luka dan bengkak tapi ga patah. Dan gw masih bisa jalan walaupun udah kayak siput encok. Puji Tuhan?! :)

Thanks God for everything. Bersyukur gw ga luka-luka, atau yang lebih parahnya, geger otak. Sekarang cuma ada biru-biru sekujur tubuh. Dan pipi gw memar karena jatuh. Ini nih yang untung. UNTUUUUNGGG GW PAKE HELM TUTUP YAAA.... Kalo nggak muka gw uda besot-besot. Kan jadi ga imut lucu dan menggemaskan lagiii.... *pukul-pukul manja*

Sekali lagi, makasih Tuhan buat perlindungannya. Tuhanku ihiyyy banget deh. *peluk*

Smooch,
eVe~

Sampah

VA!

Ya ampun Tuhan Yesus, Vaaaaa!!! Kok lo ga berubah sih dari duluuuu???? Cupu lo!!!!


#jedotinpalaketembok

Tentang mata (dan sekitarnya)



"Kalo punya cewe, harus dilihat langsung dimatanya."
~ seorang teman yg merasa dirinya cassanova (penakluk wanita).

"Gue ngerasa dia juga ngeliatin gw."
~ seorang teman yang sedang naksir cowo secara diam-diam, sambil tersipu.

"Karena dia emang ngeliat lo. Tapi ya udah, cuma liat."
~ gw, menanggapi pernyataan teman diatas, sambil cuci tangan setelah buang air besar.

"Dia punya mata, bisa dan boleh liat apa pun dan siapa pun. Ga harus ada intensi khusus ngeliat gw."
~ gw, saat mencoba munafik terhadap diri sendiri. Ps: 'dia' disini adalah orang yang berbeda dari yang dibicarakan teman saya. Tenang, saya bukan backstabber.

"It's sad to know that someone looking at you is not looking for you."
~ status FB beberapa bulan lalu.

"Jangan ngeliat gw lagi! Ngerti ?!"
~ gw, berkata pada boneka marmut lucu berpunggung bolong yg sedang menatap lunglai gw. Efek galau.

"Pipi lo lucu deh. Kalo lo punya cowo pasti seneng pegang pipi lo."
~ cowo yang berhasil membuat gw senyum-senyum selama beberapa hari, efek samping dari kata-katanya.

"Whom do you looking (for) at?"
~ status Twitter beberapa menit yang lalu, saat mulai penasaran akan sesuatu.

"Coba lo ajak ngomong, Va. Siapa tau beneran gagu."
~ seorang teman curhat yang penasaran tidak pada tempatnya.

"Jangan sms koko. Whatsapp aja. Bisa kan install Whatsapp? Hari gini mah ga mainan sms."
~ gw tau ini ga ada hubungannya sama mata dan sekitarnya. Tapi pengen aja masukin kata-kata koko gw yang selalu membuat gw takjub akan ke'norak'annya.

"Kenapa sih kebanyakan cowo ngeliat cewe dari luarnya aja?"
"Karena matanya lebih besar dari otaknya apalagi hatinya."
~ Seorang teman dan saya, saat sedang melacur (melakukan curhat).

"I kinda like it your way, how you shyly placed you eyes on me."
~ Faye Wong, Eyes on Me.


Smooch,
eVe~